Cumi cumi dan hasil rantauannya


Letters to God
Juni 20, 2009, 11:21 pm
Filed under: ingin berkatakata | Tag: ,

white roseKira-kira mirip dengan judul lagu yang dinyanyikan oleh Box Car Racer, mungkin ada banyak diantara kita (atau mungkin sedikit?) yang ingin sekali menuliskan surat untuk Tuhan. Kenapa surat? Kenapa tidak langsung diucapkan?

Perjalanan kota ribuan mahasiswa menuju kota ribuan buah apel, banyak inspirasi dan kata-kata yang ingin ditumpahkan. Matahari terbenam tepat didepan mataku, hanya jendela bus yang dilapisi film pereda cahaya, yang membatasi pandanganku waktu itu. Siluet burung-burung senja, lampu-lampu jingga yang mulai bernyala, hingga penumpang disebelah yang menceritakan betapa membahagiakannya mendaftar menjadi tentara.

Musik mengalun walau aku tak mengenal ketukannya, tiupan angin dari sepasang lubang kecil diatas kepala ku, dan suara raungan mesin yang kadang tersadar terdengar. Aku berfokus kepada kertas berwarna kuning kecil yang ada di tangan ku, dengan bertatakan tas ransel hitam favorit, lalu pena hitam yang sudah siap menerima perintah dari tangan yang menggenggam.

Aku menulis semua kata yang tertumpah sore itu. Semuanya. Dua hari yang sangat mengenang, bersenang, atau bahkan kadang menyakitkan. Semua tertumpah melalui pena hitam ke dalam tulisan. Emosi essay terlihat dari kedalaman sang pena menancap di kertas mungil itu. Baca lebih lanjut

Iklan


Bulan dan Matahari
Mei 25, 2009, 4:12 am
Filed under: ingin berkatakata | Tag: , ,

bulan dan matahari

X: “Kamu tahu, kalau sebenarnya keindahan bintang itu semu?”

Y: “Kok semu? bukannya bintang itu bagus yah?”

X: “Karena apa yang kamu lihat sekarang.. belum tentu seperti itu sekarang.. karena,, bintang yang paling dekat dengan kita itu jaraknya satu juta tahun cahaya..”

Y: “Satu juta tahun..?”

X: “Iya.. kalo kita bisa mengagumi jutaan bintang yang sekarang kita lihat.. mungkin, sebenarnya mereka sudah tidak ada.. atau mungkin masih ada..”

Y: “Oiyahhh? aku baru tahu kayak gitu..”

X: “Makanya aku lebih suka bulan, daripada bintang… Walaupun bulan kadang ngga seindah bintang-bintang yang gemerlap-gemerlip sepanjang malam, tapi keindahannya nyata, ngga semu.”

Y: “Hmmmmm…”

X: “Aku senang kamu jadi bulan ku, kamu memberi keindahan yang ngga semu di kehidupan ku”

Y: “Hmmm… Aku juga senang, kamu jadi matahari ku.. karena kalau ngga ada kamu.. aku ngga akan bisa berpendar untuk menerangi malam”

Kenikmatan dua potong sandwich berisi potongan ikan dan ayam dengan campuran saus putih, menjadi terlupakan oleh perbincangan singkat yang spontan muncul tanpa penyebab.

Y: “Aku ingin kita bisa begini terus yaaa, tapi kenapa yaaahh ngga bisa”

X: “Waktu itu berharga karena ada batasnya, Pertemuan kita juga jadi sangat berharga.. karena ada batasnya”

Kicauan musik yang keluar dari kotak suara yang meramaikan kedai bertingkat dua, lampu-lampu mini yang mendamaikan, serta angin-angin semilir yang terkadang membelai rambutnya yang indah. Malam itu adalah malam terakhir sang matahari melihat sang bulan, hingga nanti muncul bulan purnama berikutnya.

Diam namun ramai, Senang tapi Menyedihkan, Senyum tapi bertetes air mata. Waktu tak dapat dibendung dan berhenti.

Y: “Kita harus pulang, ini sudah malam”

X: “Betulkah? besok aku akan berangkat.. tepatnya setelah ayam berkokok untuk ketiga kalinya”

Y: “Pikiran ku mengatakan, kita harus pulang sekarang,, tapi hati dan jiwaku.. memintaku untuk tak beranjak pergi.. hingga malam ini habis berganti pagi..”

Matahari dan bulan akan bertemu, untuk menciptakan bulan purnama, menciptakan suasana, menciptakan gemerlap nyata diantara jutaan bintang yang dipuji keindahannya.,

 

:Gambar dipinjam dari http://www.gretchenraisch.com:



Bertanya lah..
April 14, 2009, 8:17 am
Filed under: ingin berkatakata | Tag: , , , ,

sundakMalam sepi yang tak gelap gulita..

Malam itu bulan berwarna emas dengan bentuk bulat penuh tanpa cacat. Bintang bertebaran seperti biasa, hanya saja waktu itu suara gemerisik ombak malam pantai selatan selalu terdengar tiap alunan nafas. Pohon-pohon yang diam-gerak karena angin malam, suara celotehan yang samar-samar terbersit dari kumpulan anak muda bertenda di ujung pantai tak berujung,. menjadi malam sempurna untuk dipandang.

Kerlap-kerlip serangga berfosfor yang berpendar, terkadang lewat hanya untuk menyapa. Tak ada waktu yang lebih tepat lagi waktu itu, selain berpikir tentang apa yang selalu terpikir. Tak ada dering telefon malam itu.

Bulan yang berpendar sangat terang, Bintang yang berkedip dengan cantik, Serangga yang berkelip diam-diam. Mereka memliki kesamaan: Bercahaya untuk dilihat halayak manusia. Dan seakan waktu itu yang terlihat paling sempurna adalah bulan yang menatap ku dengan serius. Bertanyalah ku kepadanya, Apakah ada yang sedang menatapmu?

Bertatap bulan berharap tatapanku berpendar malam itu. Menatap langit berharap bintang menyapa tatapanku malam itu. Percuma. Mereka hanya bersinar untuk menyenangkan ku, menyenang kan sang penatapnya. Karena selalu memiliki matahari yang menjadi sinar kehidupannya. Karena Bintang selalu memiliki teman dalam menerangi pengagumnya.

“Hai serangga yang berkelip hijau,, apa yang kau pikirkan?” tanya ku malam itu. Aku hanya diam dan berharap bisa berkomunikasi dengannya. Mungkin dia ingin bersinar., berharap sang penatapnya dapat menyukainya dengan segala keunikannya. Walau sinarnya kalah terang dengan bintang dan bulan, tapi kerlipan sang serangga membuatku tanggap dan menyukainya.

Hai pengagum bintang, apakah kau bulan, bintang, atau serangga berkelip?

-Pantai Sundak, 10 April 2009, 22:47 PM-



Dan Ketika..
Maret 27, 2009, 3:07 pm
Filed under: ingin berkatakata | Tag: ,

starsDan langitpun waktu itu sangat bening, tak ada yang mengganggu pandangan ku terhadap banyak bintang. Ya, malam itu semua bintang yang menyala konstan maupun padam menyala terus menerangi. Seakan tidak peduli dengan hiruk pikuk dan kesibukan semua orang malam itu: persiapan rutinitas, kesenangan yang telah berakhir, terlelap karena kelelahan, ataupun pengagumnya yang memandangi semua bintang malam itu.

Tak ada kata lebih, untuk mengungkapkan keanggunan rangkaian titik-titik yang menyala. Angin yang kadang mampir, suara jangkrik yang terdengar, maupun suara hewan penjaga malam yang kadang terusik. 

Aku memandanginya sepanjang malam, berharap dapat mengarungi jutaan tahun cahaya untuk sekedar bersapa dengan mereka. Dan berucap senyum karena mereka yang membuatku kembali tersenyum, tertawa, atau dapat mengembalikan energi positif setelah sepanjang hari aku terjebak oleh kewajiban duniawi.

Ternyata bukan seorang diri yang memandangi mereka malam itu. Jauh disana, pengagum bintang sedang melewati malam dengan berduduk santai memandang langit. Gemerlap ibukota dan keramaian tidak mengganggunya. hanya langit dan jutaan bintang yang menariknya.

“Kudengar mereka menemanimu sepanjang malam”, ujar ku kepada pengagum bintang.

“Ah, tidak. Aku melihatnya untuk memastikan mereka menemaniku sepanjang malam”

“Mereka berjarak jutaan tahun cahaya.. mungkin saja yang kau lihat itu semu.. karena apa yang kita lihat sekarang adalah pemandangan jutaan tahun yang lalu” ujarku sinis.

“Mereka telah berencana.. dari dulu sekali.. hanya untuk menemaniku malam ini.. dan esok harinya.. dan esok harinya.. Kekaguman ku berawal dari sana. Aku akan selalu memandang mereka.. seperti malam ini, esok hari, dan esok harinya..” ujarnya.

Sejak perbincangan itu, tak ada yang lebih menenangkan daripada menengok langit, bertemu sapa, dan menengok sang pengagum bintang.

Bahwa apa yang akan kita hadapi esok hari.. akan terjadi sesuai dengan apa yang kita lakukan hari ini.

 

 

::gambar diunduh dari http://media.bigoo.ws::